Sabtu, 17 Agustus 2013

Reaksi reduksi oksidasi








REAKSI OKSIDASI REDUKSI

Sejak dahulu kala sesungguhnya Manusia telah memanfaatkan Reaksi Oksidasi Reduksi dalam kehidupannya sehari-hari. Pada saat Ibu-ibu memasak dengan menggunakan kayu bakar, Batu bara, Minyak tanah, Elpiji atau yang lain, sesungguhnya ibu-ibu tersebut telah menerapkan Reaksi Oksidasi Reduksi dalam pekerjaannya. Saat ini penerapan Reaksi Oksidasi Reduksi menjadi sangat penting karena penggunaannya dapat dilakukan dalam berbagai hal seperti : Pada Industri Obat-obatan, Industri Makanan/Minuman, Industri Logam dan lain-lain.

Pengertian reaksi Oksidasi reduksi berkembang sejalan dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan, Perkembangan tersebut dapat kita lihat sebagai berikut.

A. REAKSI OKSIDASI REDUKSI DITINJAU DARI PENGGABUNGAN DAN PELEPASAN OKSIGEN

Pada awalnya pengertian Reaksi Oksidasi Reduksi hanya digunakan untuk reaksi –raksi yang berlangsung dengan adanya perpindahan Oksigen. Sesuai dengan asal katanya Oksidasi berarti pemberian Oksigen atau Peng-oksigenan. Jadi Reaksi Oksidasi adalah Penggabungan Unsur / Zat dengan Oksigen
Contoh :
               2Cu(s)  +  O2(g)     2CuO(s)
               4Fe(s)  +  3O2(g)    2Fe2O3(s)
               4Na(s)  +  O2(g)     2Na2O(s)
               C(s)     +  3O2(g)    2CO2(s)
               4Cl(g)  +  O2(g)     2Cl2O3(g)
               2N2(g)   +  5O2(g)    2N2O5(g)
 
Pada reaksi di atas Oksigen disebut zat pengoksidasi atau Oksidator, sedangkan Cu, Fe, Na, C dan Cl disebut zat pereduksi atau Reduktor
Zat yang terbentuk dari reaksi okdidasi ini disebut Oksida. Jika unsur yang direaksikan dengan oksigen adalah logam, maka oksida yang terbentuk disebut Oksida Logam atau Oksida Basa karena jika oksida Logam/Oksida Basa ini dilarutkan ke dalam air akan terbentuk larutan Basa.
Contoh :
               CuO(s)  +  H2O(l)     Cu(OH)2(aq)
               Na2O(s)  +  H2O(l)    2NaOH(aq)
               CaO(s)  +  H2O(l)    Ca(OH)2
               Fe2O3(s)  +  3H2O(l)    2Fe(OH)3 dll 

Dan jika unsur yang direaksikan dengan Oksigen adalah unsur Nonlogam maka Oksida yang terbentuk disebut Oksida nonlogam atau Oksida Asam karena jika oksida nonlogam/oksida asam ini dilarutkan ke dalam air akan terbentuk Larutan Asam
Contoh :
               CO2(g)  +  H2O(l)      H2CO3(aq)
               Cl2O3(g)  +  H2O(l)    2HClO2(aq)
               N2O5(g)  +  H2O(l)    HNO3(aq)
               P2O5(g)  +  3H2O(l)    2H3PO4(aq)

Reaksi Reduksi adalah reaksi pelepasan Oksigen dari suatu zat atau oksida
Contoh :
               2H2O(l)    H2(g)  +  O2(g)
               2Cl2O3(g)    4Cl(g)  +  O2(q)
               CuO(s)  +  H2(g)    Cu(s)  +  H2O(g)
               Fe2O3(s)  3CO(g)    2Fe(s)  +  3CO2(g)
               2MgO(s)    2Mg(s)  +  O2(g)
               Na2O(s)    Na(s)  +  O2(g)

Jadi Reaksi Reduksi adalah kebalikan dari Reaksi Oksidasi





B. REAKSI OKSIDASI REDUKSI DITINJAU DARI PELEPASAN DAN PENERIMAAN ELEKTRON

Perkembangan Ilmu Pengetahuan khususnya teori Atom telah berakibat pada pemahaman reaksi-reaksi kimia menjadi lebih luas, dan pengertian reaksi oksidasi reduksi berdasarkan penggabungan dan pelepasan oksigen menjadi sangat sempit. Ditinjau dari teori atom ternyata banyak reaksi kimia yang tidak melibatkan oksigen tetapi mengalami perubahan struktur elektron, dan setelah diamati ternyata prinsipnya sama seperti yang terjadi pada reaksi kimia yang melibatkan oksigen.
Sekarang mari kita bandingkan dua contoh reaksi kimia berikut :

               4Na(s)  +  O2(g)     2Na2O(s)  .......................        (1)
               2Na(s)  +  Cl2(g)     2NaCl(s)  ......................         (2)

Jika ditinjau dari penggabungan dan pelepasan oksigen maka reaksi (2) jelas bukan reaksi oksidasi ataupun reduksi karena tidak melibatkan oksigen.
Sekarang mari kita tinjau dari teori atom yaitu berdasarkan perubahan struktur elektron. Pda reaksi (1) terjadi ikatan ion antara ion Na+ dengan ion O2-, dimana atom Na melepaskan satu elektronnya sehingga berubah menjadi ion Na+. Kemudian elektron yang dilepaskan Na ini diikat oleh atom O sehingga atom O berubah menjadi ion O2-

               2Na           2Na+  +  2e
                        O    +  2e    [ O ]2-  +
                    2Na   +    O       Na+[ O ]2-Na+

Pada reaksi (2) juga terjadi ikatan ion antara ion Na+ dengan ion Cl-, dimana atom Na melepaskan elektronnya sehingga Na berubah menjadi ion Na+  dan elektron ini diikat oleh atom Cl sehingga atom Cl berubah menjadi ion Cl-

               Na       Na+  + e
               :Cl.  +  e    [:Cl.]-  +
               Na   +  :Cl.      Na+[.Cl:]-

Ternyata jika ditinjau dari konsep perpindahan elektron, kedua reaksi di atas menunjukkan proses perubahan yang sama sehingga pengertian reaksi Oksidasi Reduksi diperluas  dan dikaitkan dengan perpindahan elektron.ditinjau dari pelepasan dan penerimaan elektron maka :
Reaksi Oksidasi adalah Reaksi yang terjadi karena pelepasan elektron dan
Reaksi Reduksi adalah Reaksi yang terjadi karena penerimaan elektron
Contoh :
a.            2Cu            2Cu2+  + 4e      ( Oksidasi )
               O2  +  4e    2O2-                  ( Reduksi ) +
               2Cu  +  O2    2Cu2+  + 2O2-   ( Redoks )

b.            Cu    Cu2+  + 2e                 ( Oksidasi )
               Cl2  +  2e    2Cl-                ( Reduksi ) +
               Cu  +  Cl2    Cu2+  + 2Cl-      ( Redoks )

c.            2Fe2+    2Fe3+  + 2e                    ( Oksidasi )
               Cu2+  +  2e     Cu                       ( Reduksi ) +
               2Fe2+  +  Cu2+    2Fe3+  +  Cu    ( Redoks )

d.            Mg    Mg2+  + 2e                      ( Oksidasi )
               2Cl  +  2e     2Cl-                      ( Reduksi ) +
               Mg  +  2Cl    Mg2+     +     2Cl-      ( Redoks )

Dari contoh-contoh di atas dapat disimpulkan bahwa reaksi Oksidasi selalu disertai dengan reaksi Reduksi. Bila suatu zat melepaskan elektron maka zat lain akan menerima elektron itu.
Zat yang mengakibatkan zat lain mengalami oksidasi atau zat yang cenderung menerima elektron dari zat lain disebut Oksidator, misalnya : Cl2, O2, Br2, I2 dan lain-lain sebaliknya zat yang mengakibatkan zat lain mengakibatkan zat lain mengalami reduksi atau zat yang cenderung melepaskan elektron disebut Reduktor, misalnya : Na, K, Fe, Ca, Mg dan lain-lain


C. REAKSI OKSIDASI REDUKSI DITINJAU DARI PENINGKATAN DAN PENURUNAN BILANGAN             OKSIDASI

Untuk reaksi : H2(g)  +  Cl2(g)    2HCl(g), kita tidak dapat mengatakan bahwa pada reaksi ini terjadi perpindahan elektron dari H2 ke Cl2  karena perbedaan keelektronegatifan kedua unsur ini sangat kecil. Untuk reaksi ini lebih tepat dikatakan terjadi pergeseran elektron dari atom H mendekati atom Cl
Dengan asumsi adanya pergeseran elektron dari suatu atom menuju atom lain maka pengertian Reaksi Oksidasi Reduksi semakin diperluas dengan dikembangkannya konsep Bilangan Oksidasi atau Tingkat Oksidasi.
Bilangan Oksidasi atau Tingkat Oksidasi suatu unsur adalah  bilangan yang menunjukkan muatan unsur yang disumbangkannya pada pembentukan molekul ataupun ion.
Secara umum, untuk dua jenis atom yang berikatan ionik maupun kovalen : Atom unsur yang keelektronegatifannya lebih besar akan memiliki Bilangan Oksidasi Positif dan unsur yang keelektronegatifannya lebih kecil akan memiliki Bilangan Oksidasi Negatif
Bilangan oksidasi suatu unsur ditetapkan berdasarkan perjanjian, bukan atas dasar hasil eksperimen. Beberapa aturan yang telah disepakati untuk menentukan Bilangan Oksidasi adalah sebagai berikut :

1.   Bilangan Oksidasi Unsur-unsur dalam keadaan bebas (Unsur-unsur yang belum berikatan dengan unsur lain) adalah nol      
Contoh : Bil. Oksidasi Unsur K, Na, Mg. Fe, O2, Cl2, Br2, P4, S8 adalah Nol
 
2.   Bilangan Oksidasi Unsur H dalam senyawanya adalah +1, kecuali dalam senyawa Hidrida Logam (senyawa yang terbentuk dari unsur logam dengan unsur H misalnya : KH, NaH, CaH2, dan BaH2 ), bilangan oksidasi H dalam senyawa ini sama dengan -1

3.   Bilangan Oksidasi O dalam senyawanya adalah -2, kecuali dalam senyawa Peroksida (senyawa yang mengikat atom O berlebih misalnya : H2O2, Na2O2 ) Bilangan Oksidasi O dalam senyawa ini sama dengan -1
dan Bilangan Oksidasi O dalam senyawa OF2 sama dengan +2
 
4.   Bilangan Oksidasi Unsur-unsur Golongan IA ( Unsur-unsur Alkali ) dalam senyawanya adalah +1 Dan Bilangan Oksidasi Unsur-unsur Golongan IIA ( Unsur-unsur Alkali Tanah ) dalam senyawanya adalah +2
Contoh :
            ٭ Bil. Oksidasi Na ( Gol. IA ) dalam senyawa NaCl, Na2S, NaNO3, Na2SO4, Na3PO4 adalah +1
            ٭ Bil. Oksidasi Mg ( Gol. IIA ) dalam senyawa MgCl2, MgS, MgSO4, Mg3(PO4)2 adalah +2

5.   Bilangan Oksidasi ion monoatom adalah sama dengan muatan ionnya
Contoh :
            ٭ Bil. Oksidasi Na dalam Na+ adalah +1
            ٭ Bil. Oksidasi Ca dalam Ca2+ adalah +2
            ٭ Bil. Oksidasi Fe dalam Fe3+ adalah +3         
            ٭ Bil. Oksidasi Cl dalam Cl- adalah -1
            ٭ Bil. Oksidasi O dalam O2- adalah -2 dan lain-lain    
            
6.   Pada ion Poliatom ( ion yang dibentuk oleh dua jenis unsur atau lebih ), jumlah aljabar bilangan oksidasi      unsur-unsur pembentuknya adalah sama dengan muatan ionnya
Contoh :
            ٭ Dalam ion MnO4-      : 1 x Bil. Oksidasi Mn + 4 x Bil. Oksidasi O = -1
            ٭ Dalam ion CO32-       : 1 x Bil. Oksidasi C + 3 x Bil. Oksidasi O = -2
            ٭ Dalam ion C2O42-   : 2 x Bil. Oksidasi Mn + 4 x Bil. Oksidasi O = -2
            ٭ Dalam ion PO43-     : 1 x Bil. Oksidasi P + 4 x Bil. Oksidasi O = -3
            ٭ Dalam ion NH4+     : 1 x Bil. Oksidasi N + 4 x Bil. Oksidasi H = +1

7.   Pada senyawa Netral (senyawa yang tidak bermuatan), jumlah aljabar bilangan Oksidasi unsur-unsur pembentuknya adalah sama dengan nol
Contoh :
            ٭ Dalam ion P2O5            : 2 x Bil. Oksidasi P + 5 x Bil. Oksidasi O =  0
            ٭ Dalam ion BaCl2          : 1 x Bil. Oksidasi Ba + 2 x Bil. Oksidasi Cl = 0
            ٭ Dalam ion Ca(OH)2     : 1 x Bil. Oksidasi Ca + 2 x Bil. Oksidasi O  + 2 x  Bil. Oksidasi H  = 0
            ٭ Dalam ion H2SO4         : 2 x Bil. Oksidasi H + 1 x Bil. Oksidasi S +  4 x  Bil. Oksidasi O  = 0
            ٭ Dalam ion Al2(SO4)3    : 2 x Bil. Oksidasi Al + 3 x Bil. Oksidasi S  +  12 x Bil. Oksidasi O  = 0

8.   Bilangan Oksidasi Unsur-unsur Golongan VIIA (Unsur-unsur Halogen) dalam senyawa Biner (senyaw yang terdiri dari dua jenis unsur) adalah sama dengan -1
Contoh :
            ٭ Bil. Oksidasi F dalam senyawa NaF, KF, BaF2, CaF2, AlF3, sama dengan -1
            ٭ Bil. Oksidasi Cl dalam senyawa KCl, NaCl, BaCl2, CuCl2, AlCl3, FeCl3 sama dengan -1
            ٭ Bil. Oksidasi Br dalam senyawa NaBr, KBr, MgBr2, caBr2, AlBr3, FeBr3 sama dengan -1                            ٭ Bil. Oksidasi I dalam senyawa NaI, KI, MgI2, PbI2,  FeI3 sama dengan -1

Berdasarkan konsep Bilangan Oksidasi, Reaksi Oksidasi dan Reduksi dinyatakan berdasarkan perubahan Bilangan Oksidasi Unsur-unsur yang terlibat dalam reaksi itu.
Reaksi Oksidasi adalah Reaksi yang disertai dengan bertambahnya bilangan Oksidasi Unsur sedangkan Reaksi Reduksi adalah Reaksi yang disertai dengan berkurangnya bilangan Oksidasi suatu Unsur
Contoh reaksi Oksidasi Reduksi dapat kita lihat pada proses pengolahan Besi dari Oksidanya (Fe2O3). Pada proses ini Logam Besi diperoleh dengan mereduksi Oksida Besi yang menggunakan CO melalui reaksi :
Fe2O3(s) +  3CO(g)    2Fe(l)  + 3CO2(g)
 Bilangan Oksidasi Unsur-unsur sebelum dan sesudah reaksi adalah :


Sebelum Reaksi
Sesudah Reaksi
Keterangan
Bil. Oksidasi Fe
+3
0
Bil. Oksidasi Fe turun dari +3 menjadi 0
Bil. Oksidasi O
-2
-2
Bil. Oksidasi O tetap
Bil. Oksidasi C
+2
+4
Bil. Oksidasi C naik dari +2 menjadi +4

Dari tabel di atas dapa dinyatakan bahwa :
Perubahan : Fe2O3(s)     2Fe(l)         disebut Reaksi Reduksi, sedangkan
Perubahan : 3CO(g)      3CO2(g)     disebut Reaksi Oksidasi

Pada reaksi di atas CO disebut sebagai Pereduksi atau Reduktor karena zat inilah yang menyebabkan Fe2O3 tereduksi menjadi Fe, sedangkan Fe2O3 disebut Pengoksidasi atau Oksidator, karena zat inilah yang mengoksidasi CO menjadi CO2
Secara singkat Reaksi di atas dapat digambarkan sebagai berikut :
      Fe2O3(s)   +   3CO(g)      2Fe(l)   +   3CO2(g)
      +3     -2                 +2 -2                      0                 +4  -2




 D. REAKSI DISPROPORSIONASI

Adalah Reaksi Redoks dimana salah satu zat mengalami reaksi Oksidasi dan reaksi Reduksi sekaligus
Reaksi ini disebut juga Reaksi Autoredoks
Contoh
            KOH    +    Cl2        KCl     +    KClO3    +    H2O
                                        0                      -1                  +5

 Pada reaksi Disproporsionasi / Autoredoks ini yang bertindak sebagai Oksidator maupun Reduktor adalah zat yang sama. Pada reaksi di atas yang bertindak sebagai Oksidator maupun Reduktor adalah Cl2

Beberapa contoh cara menentukan Bilangan Oksidasi Unsur dalam suatu senyawa atau suatu ion Poliatom.
Contoh 1   : Tentukan Bilangan Oksidasi Cl dalam senyawa HCl
Jawab   : HCl adalah senyawa netral, maka jumlah aljabar Bilangan Oksidasi Unsur-unsur pembentuknya = 0
                    1 x Bil.Oksidasi H + 1 x Bil.Oksidasi Cl = 0, misalkan Bil.oksidasi Cl dalam HCl  = X
                    1 x (+1) + 1 x X = 0                   
                     +1 + X = 0
                    maka X = -1 jadi Bilangan Oksidasi Cl dalam HCl adalah = -1

Contoh 2   : Tentukan Bilangan Oksidasi P dalam H3PO4
Jawab : H3PO4 adalah senyawa netral, maka jumlah aljabar Bilangan Oksidasi Unsur-unsur pembentuknya = 0
                    3 x Bil.Oksidasi H +1 x Bil.Oksidasi P + 4 x Bil.Oksidasi O = 0, misalkan Bil.Oksidasi P = X
                    3. (+1) + 1.X + 4.(-2) = 0
                    +3 + 1X + (-8) = 0              
                    -5 + X = 0
                    maka X = +5, jadi Bilangan Oksidasi P dalam H3PO4 adalah = +5

Contoh 3   : tentukan Bilangan Oksidasi Mn dalam ion MnO4-
Jawab   : Ion MnO4- mempunyai muatan = -1, maka jumlah aljabar Bil.oksidasi unsur-unsur pembentuknya = -1
                    1x Bil.Oksidasi Mn + 4x Bil.Oksidasi O = -1, misalakan Bil.Oksidasi Mn = X
                    1.X + 4. (-2) = -1                 
                     X + (-8) = -1
                     maka X = +7, jadi Bolangan Oksidasi Mn dalam MnO4- = +7

Contoh 4   : Tentukan Bilangan Oksidasi Cr, N dan O dalam senyawa Cr(NO3)3
Jawab       : senyawa Cr(NO3)3 adalah senyawa yang mengandung ion Cr3+ dan ion NO3-
                    Cr(NO3)3    Cr3+  +  3NO3-
                    Maka Bilangan Oksidasi Cr = +3 ( muatan Cr adalah 3+ )
                    Bilangan Oksidasi N dapat dicari dari ion NO3-  yaitu :
                    1 x Bil.Oksidasi N + 3 x Bil.Oksidasi O = -1, Bilangan Oksidasi O = -2 (aturan -3)
                    1. X + 3.(-2) = -1
                    X + (-6) = -1
                    Maka X =  +5 jadi Bilangan Oksidasi N dalam cr(NO3)3 = +5