dunia sains
Selasa, 05 Juli 2016
Soal dan jawaban Ikatan Kimia
https://docs.google.com/document/d/1IDeDXLzNJDt2A3rfL9kXyqxGLo8SR3q5ouYdWWKnf14/edit
Sabtu, 17 Agustus 2013
Reaksi reduksi oksidasi
REAKSI OKSIDASI REDUKSI
Sejak
dahulu kala sesungguhnya Manusia telah memanfaatkan Reaksi Oksidasi Reduksi
dalam kehidupannya sehari-hari. Pada saat Ibu-ibu memasak dengan menggunakan
kayu bakar, Batu bara, Minyak tanah, Elpiji atau yang lain, sesungguhnya
ibu-ibu tersebut telah menerapkan Reaksi Oksidasi Reduksi dalam pekerjaannya.
Saat ini penerapan Reaksi Oksidasi Reduksi menjadi sangat penting karena
penggunaannya dapat dilakukan dalam berbagai hal seperti : Pada Industri
Obat-obatan, Industri Makanan/Minuman, Industri Logam dan lain-lain.
Pengertian
reaksi Oksidasi reduksi berkembang sejalan dengan perkembangan Ilmu
Pengetahuan, Perkembangan tersebut dapat kita lihat sebagai berikut.
A. REAKSI OKSIDASI REDUKSI DITINJAU DARI
PENGGABUNGAN DAN PELEPASAN OKSIGEN
Pada
awalnya pengertian Reaksi Oksidasi Reduksi hanya digunakan untuk reaksi –raksi
yang berlangsung dengan adanya perpindahan Oksigen. Sesuai dengan asal katanya
Oksidasi berarti pemberian Oksigen atau Peng-oksigenan. Jadi Reaksi Oksidasi
adalah Penggabungan Unsur / Zat dengan Oksigen
Contoh :
2Cu(s) + O2(g)
→
2CuO(s)
4Fe(s) + 3O2(g) → 2Fe2O3(s)
4Na(s) + O2(g)
→ 2Na2O(s)
C(s) + 3O2(g) → 2CO2(s)
4Cl(g) + O2(g)
→ 2Cl2O3(g)
2N2(g) + 5O2(g) → 2N2O5(g)
Pada reaksi di atas Oksigen disebut zat
pengoksidasi atau Oksidator, sedangkan Cu, Fe, Na, C
dan Cl disebut zat pereduksi atau Reduktor
Zat yang terbentuk dari reaksi okdidasi ini disebut Oksida.
Jika unsur yang direaksikan dengan oksigen adalah logam, maka oksida yang
terbentuk disebut Oksida Logam atau Oksida Basa karena jika oksida
Logam/Oksida Basa ini dilarutkan ke dalam air akan terbentuk larutan
Basa.
Contoh :
CuO(s) + H2O(l) → Cu(OH)2(aq)
Na2O(s) + H2O(l) →
2NaOH(aq)
CaO(s) + H2O(l) →
Ca(OH)2
Fe2O3(s) + 3H2O(l) →
2Fe(OH)3 dll
Dan jika unsur yang direaksikan dengan Oksigen adalah
unsur Nonlogam maka Oksida yang terbentuk disebut Oksida nonlogam atau Oksida
Asam karena jika oksida nonlogam/oksida asam ini dilarutkan ke dalam
air akan terbentuk Larutan Asam
Contoh :
CO2(g) + H2O(l) → H2CO3(aq)
Cl2O3(g) + H2O(l) →
2HClO2(aq)
N2O5(g) + H2O(l) → HNO3(aq)
P2O5(g) + 3H2O(l) → 2H3PO4(aq)
Reaksi Reduksi adalah reaksi pelepasan Oksigen dari
suatu zat atau oksida
Contoh :
2H2O(l) → H2(g) + O2(g)
2Cl2O3(g) →
4Cl(g) + O2(q)
CuO(s) + H2(g) →
Cu(s) + H2O(g)
Fe2O3(s) 3CO(g)
→ 2Fe(s) + 3CO2(g)
2MgO(s) →
2Mg(s) + O2(g)
Na2O(s) →
Na(s) + O2(g)
Jadi Reaksi Reduksi adalah kebalikan dari Reaksi
Oksidasi
B. REAKSI
OKSIDASI REDUKSI DITINJAU DARI PELEPASAN DAN PENERIMAAN ELEKTRON
Perkembangan Ilmu Pengetahuan khususnya teori Atom
telah berakibat pada pemahaman reaksi-reaksi kimia menjadi lebih luas, dan
pengertian reaksi oksidasi reduksi berdasarkan penggabungan dan pelepasan
oksigen menjadi sangat sempit. Ditinjau dari teori atom ternyata banyak reaksi
kimia yang tidak melibatkan oksigen tetapi mengalami perubahan struktur
elektron, dan setelah diamati ternyata prinsipnya sama seperti yang terjadi
pada reaksi kimia yang melibatkan oksigen.
Sekarang mari kita bandingkan dua contoh reaksi kimia
berikut :
4Na(s) + O2(g) → 2Na2O(s) ....................... (1)
2Na(s) + Cl2(g) →
2NaCl(s) ...................... (2)
Jika ditinjau dari penggabungan dan pelepasan oksigen
maka reaksi (2) jelas bukan reaksi oksidasi ataupun reduksi karena tidak
melibatkan oksigen.
Sekarang mari kita tinjau dari teori atom yaitu
berdasarkan perubahan struktur elektron. Pda reaksi (1) terjadi ikatan ion
antara ion Na+ dengan ion O2-, dimana atom Na melepaskan
satu elektronnya sehingga berubah menjadi ion Na+. Kemudian elektron
yang dilepaskan Na ini diikat oleh atom O sehingga atom O berubah menjadi ion O2-
2Na
→ 2Na+
+ 2e
O +
2e → [ O ]2- +
2Na + O
→ Na+[ O ]2-Na+
Pada reaksi (2) juga terjadi ikatan ion antara ion Na+
dengan ion Cl-, dimana atom Na melepaskan elektronnya sehingga Na
berubah menjadi ion Na+ dan
elektron ini diikat oleh atom Cl sehingga atom Cl berubah menjadi ion Cl-
Na →
Na+ + e
:Cl. +
e → [:Cl.]- +
Na +
:Cl. → Na+[.Cl:]-
Ternyata jika ditinjau dari konsep perpindahan
elektron, kedua reaksi di atas menunjukkan proses perubahan yang sama sehingga
pengertian reaksi Oksidasi Reduksi diperluas
dan dikaitkan dengan perpindahan elektron.ditinjau dari pelepasan dan
penerimaan elektron maka :
Reaksi Oksidasi adalah Reaksi yang terjadi karena
pelepasan elektron dan
Reaksi Reduksi adalah Reaksi yang terjadi karena
penerimaan elektron
Contoh :
a. 2Cu →
2Cu2+ + 4e ( Oksidasi )
O2 +
4e → 2O2- ( Reduksi ) +
2Cu + O2 → 2Cu2+ + 2O2- ( Redoks )
b. Cu → Cu2+ + 2e
( Oksidasi )
Cl2 +
2e → 2Cl- ( Reduksi ) +
Cu + Cl2 → Cu2+ + 2Cl- ( Redoks )
c. 2Fe2+ → 2Fe3+ + 2e ( Oksidasi )
Cu2+ + 2e → Cu ( Reduksi ) +
2Fe2+ + Cu2+ → 2Fe3+ + Cu (
Redoks )
d. Mg → Mg2+ + 2e ( Oksidasi )
2Cl +
2e → 2Cl- ( Reduksi ) +
Mg +
2Cl → Mg2+
+ 2Cl- ( Redoks )
Dari contoh-contoh di atas dapat disimpulkan bahwa
reaksi Oksidasi selalu disertai dengan reaksi Reduksi. Bila suatu zat
melepaskan elektron maka zat lain akan menerima elektron itu.
Zat yang mengakibatkan zat lain mengalami oksidasi
atau zat yang cenderung menerima elektron dari zat lain disebut Oksidator,
misalnya : Cl2, O2, Br2, I2 dan
lain-lain sebaliknya zat yang mengakibatkan zat lain mengakibatkan zat lain
mengalami reduksi atau zat yang cenderung melepaskan elektron disebut Reduktor,
misalnya : Na, K, Fe, Ca, Mg dan lain-lain
C. REAKSI
OKSIDASI REDUKSI DITINJAU DARI PENINGKATAN DAN PENURUNAN BILANGAN OKSIDASI
Untuk reaksi : H2(g) + Cl2(g) →
2HCl(g), kita tidak dapat mengatakan bahwa pada reaksi ini terjadi
perpindahan elektron dari H2 ke Cl2 karena perbedaan keelektronegatifan kedua
unsur ini sangat kecil. Untuk reaksi ini lebih tepat dikatakan terjadi
pergeseran elektron dari atom H mendekati atom Cl
Dengan asumsi adanya pergeseran elektron dari suatu
atom menuju atom lain maka pengertian Reaksi Oksidasi Reduksi semakin diperluas
dengan dikembangkannya konsep Bilangan Oksidasi atau Tingkat Oksidasi.
Bilangan Oksidasi atau Tingkat Oksidasi suatu unsur
adalah bilangan yang menunjukkan muatan
unsur yang disumbangkannya pada pembentukan molekul ataupun ion.
Secara umum, untuk dua jenis atom yang berikatan ionik
maupun kovalen : Atom unsur yang keelektronegatifannya lebih besar akan memiliki
Bilangan
Oksidasi Positif dan unsur yang keelektronegatifannya lebih kecil akan
memiliki Bilangan Oksidasi Negatif
Bilangan oksidasi suatu unsur ditetapkan berdasarkan
perjanjian, bukan atas dasar hasil eksperimen. Beberapa aturan yang telah
disepakati untuk menentukan Bilangan Oksidasi adalah sebagai berikut :
1. Bilangan Oksidasi Unsur-unsur dalam keadaan bebas (Unsur-unsur yang belum
berikatan dengan unsur lain) adalah
nol
Contoh
: Bil. Oksidasi Unsur K, Na, Mg. Fe, O2, Cl2, Br2,
P4, S8 adalah Nol
2. Bilangan Oksidasi Unsur H dalam senyawanya adalah +1,
kecuali dalam senyawa Hidrida Logam (senyawa yang terbentuk dari unsur logam
dengan unsur H misalnya : KH, NaH, CaH2, dan BaH2 ),
bilangan oksidasi H dalam
senyawa ini sama dengan -1
3. Bilangan Oksidasi O dalam senyawanya adalah -2,
kecuali dalam senyawa Peroksida (senyawa yang mengikat atom O berlebih misalnya : H2O2,
Na2O2 ) Bilangan Oksidasi O dalam senyawa ini sama dengan
-1
dan
Bilangan Oksidasi O dalam senyawa OF2
sama dengan +2
4. Bilangan Oksidasi Unsur-unsur Golongan IA (
Unsur-unsur Alkali ) dalam
senyawanya adalah +1 Dan Bilangan Oksidasi Unsur-unsur Golongan IIA ( Unsur-unsur
Alkali Tanah ) dalam senyawanya adalah +2
Contoh
:
٭ Bil. Oksidasi Na ( Gol. IA ) dalam senyawa NaCl, Na2S,
NaNO3, Na2SO4, Na3PO4
adalah +1
٭ Bil. Oksidasi Mg ( Gol. IIA ) dalam senyawa MgCl2,
MgS, MgSO4, Mg3(PO4)2 adalah +2
5. Bilangan Oksidasi ion monoatom adalah sama
dengan muatan ionnya
Contoh
:
٭ Bil. Oksidasi Na dalam Na+ adalah +1
٭ Bil. Oksidasi Ca dalam Ca2+ adalah +2
٭ Bil. Oksidasi Fe dalam Fe3+ adalah +3
٭ Bil. Oksidasi Cl dalam Cl- adalah -1
٭ Bil. Oksidasi O dalam O2- adalah -2 dan lain-lain
6. Pada ion Poliatom ( ion yang dibentuk
oleh dua jenis unsur atau lebih ), jumlah aljabar bilangan oksidasi unsur-unsur pembentuknya adalah sama
dengan muatan ionnya
Contoh
:
٭ Dalam ion MnO4- : 1 x
Bil. Oksidasi Mn + 4 x Bil. Oksidasi O = -1
٭ Dalam ion CO32- : 1
x Bil. Oksidasi C + 3 x Bil. Oksidasi O = -2
٭ Dalam ion C2O42- : 2 x Bil. Oksidasi Mn + 4 x Bil. Oksidasi O =
-2
٭ Dalam ion PO43- : 1 x
Bil. Oksidasi P + 4 x Bil. Oksidasi O = -3
٭ Dalam ion NH4+ : 1 x
Bil. Oksidasi N + 4 x Bil. Oksidasi H = +1
7. Pada senyawa Netral (senyawa yang
tidak bermuatan), jumlah aljabar bilangan Oksidasi unsur-unsur pembentuknya
adalah sama dengan nol
Contoh
:
٭ Dalam ion P2O5 : 2 x Bil. Oksidasi P + 5 x Bil. Oksidasi O = 0
٭ Dalam ion BaCl2 :
1 x Bil. Oksidasi Ba + 2 x Bil. Oksidasi Cl = 0
٭ Dalam ion Ca(OH)2 :
1 x Bil. Oksidasi Ca + 2 x Bil. Oksidasi O
+ 2 x Bil. Oksidasi H = 0
٭ Dalam ion H2SO4 : 2 x Bil. Oksidasi H + 1 x Bil. Oksidasi S + 4 x
Bil. Oksidasi O = 0
٭ Dalam ion Al2(SO4)3 : 2 x Bil. Oksidasi Al + 3 x Bil. Oksidasi S + 12 x
Bil. Oksidasi O = 0
8. Bilangan Oksidasi Unsur-unsur Golongan VIIA
(Unsur-unsur Halogen) dalam senyawa Biner (senyaw yang terdiri dari dua jenis unsur) adalah
sama dengan -1
Contoh
:
٭ Bil. Oksidasi F dalam senyawa NaF, KF, BaF2, CaF2,
AlF3, sama dengan -1
٭ Bil. Oksidasi Cl dalam senyawa KCl, NaCl, BaCl2,
CuCl2, AlCl3, FeCl3 sama dengan -1
٭ Bil. Oksidasi Br dalam senyawa NaBr, KBr, MgBr2,
caBr2, AlBr3, FeBr3 sama dengan -1 ٭
Bil. Oksidasi I dalam senyawa NaI, KI, MgI2, PbI2, FeI3 sama dengan -1
Berdasarkan konsep Bilangan Oksidasi, Reaksi Oksidasi
dan Reduksi dinyatakan berdasarkan perubahan Bilangan Oksidasi Unsur-unsur yang
terlibat dalam reaksi itu.
Reaksi Oksidasi adalah Reaksi yang disertai dengan bertambahnya
bilangan Oksidasi Unsur sedangkan Reaksi Reduksi
adalah Reaksi yang disertai dengan berkurangnya bilangan Oksidasi suatu Unsur
Contoh reaksi Oksidasi Reduksi dapat kita lihat pada
proses pengolahan Besi dari Oksidanya (Fe2O3). Pada
proses ini Logam Besi diperoleh dengan mereduksi Oksida Besi yang menggunakan
CO melalui reaksi :
Fe2O3(s) + 3CO(g)
→ 2Fe(l) + 3CO2(g)
Bilangan
Oksidasi Unsur-unsur sebelum dan sesudah reaksi adalah :
|
|
Sebelum Reaksi
|
Sesudah Reaksi
|
Keterangan
|
|
Bil. Oksidasi Fe
|
+3
|
0
|
Bil. Oksidasi Fe turun dari +3 menjadi 0
|
|
Bil. Oksidasi O
|
-2
|
-2
|
Bil. Oksidasi O tetap
|
|
Bil. Oksidasi C
|
+2
|
+4
|
Bil. Oksidasi C naik dari +2 menjadi +4
|
Dari tabel di atas dapa dinyatakan bahwa :
Perubahan : Fe2O3(s) →
2Fe(l) disebut Reaksi Reduksi,
sedangkan
Perubahan : 3CO(g)
→ 3CO2(g) disebut Reaksi Oksidasi
Pada reaksi di atas CO disebut sebagai Pereduksi atau
Reduktor karena zat inilah yang menyebabkan Fe2O3
tereduksi menjadi Fe, sedangkan Fe2O3 disebut
Pengoksidasi atau Oksidator, karena zat inilah yang mengoksidasi CO menjadi CO2
Secara singkat Reaksi di atas dapat digambarkan
sebagai berikut :
Fe2O3(s) +
3CO(g) → 2Fe(l)
+ 3CO2(g)
+3 -2 +2 -2 0
+4
-2
D. REAKSI
DISPROPORSIONASI
Adalah Reaksi Redoks dimana salah satu zat
mengalami reaksi Oksidasi dan reaksi Reduksi sekaligus
Reaksi ini disebut juga Reaksi Autoredoks
Contoh
KOH +
Cl2 → KCl
+
KClO3 + H2O
0 -1 +5
Pada reaksi Disproporsionasi / Autoredoks ini yang
bertindak sebagai Oksidator maupun Reduktor adalah zat yang sama. Pada
reaksi di atas yang bertindak sebagai Oksidator maupun Reduktor adalah Cl2
Beberapa contoh cara menentukan Bilangan Oksidasi
Unsur dalam suatu senyawa atau suatu ion Poliatom.
Contoh 1 : Tentukan
Bilangan Oksidasi Cl dalam senyawa HCl
Jawab : HCl
adalah senyawa netral, maka jumlah aljabar Bilangan Oksidasi Unsur-unsur
pembentuknya = 0
1 x Bil.Oksidasi H + 1 x Bil.Oksidasi Cl = 0,
misalkan Bil.oksidasi Cl dalam HCl = X
1 x (+1) + 1 x X = 0
+1 + X = 0
maka X = -1 jadi Bilangan Oksidasi Cl dalam HCl adalah = -1
Contoh 2 : Tentukan
Bilangan Oksidasi P dalam H3PO4
Jawab : H3PO4
adalah senyawa netral, maka jumlah aljabar Bilangan Oksidasi Unsur-unsur
pembentuknya = 0
3 x Bil.Oksidasi H +1 x Bil.Oksidasi P + 4 x
Bil.Oksidasi O = 0, misalkan Bil.Oksidasi P = X
3. (+1)
+ 1.X + 4.(-2) = 0
+3 + 1X + (-8) = 0
-5 + X = 0
maka X = +5, jadi Bilangan Oksidasi P dalam H3PO4
adalah = +5
Contoh 3 :
tentukan Bilangan Oksidasi Mn dalam ion MnO4-
Jawab : Ion MnO4-
mempunyai muatan = -1, maka jumlah aljabar Bil.oksidasi unsur-unsur
pembentuknya = -1
1x Bil.Oksidasi Mn + 4x Bil.Oksidasi O = -1,
misalakan Bil.Oksidasi Mn = X
1.X + 4. (-2) = -1
X + (-8) = -1
maka X = +7, jadi Bolangan Oksidasi Mn dalam MnO4-
= +7
Contoh 4 : Tentukan
Bilangan Oksidasi Cr, N dan O dalam senyawa Cr(NO3)3
Jawab : senyawa
Cr(NO3)3 adalah senyawa yang mengandung ion Cr3+
dan ion NO3-
Cr(NO3)3 →
Cr3+ + 3NO3-
Maka Bilangan Oksidasi Cr = +3 (
muatan Cr adalah 3+ )
Bilangan Oksidasi N dapat dicari dari ion NO3-
yaitu :
1 x Bil.Oksidasi N + 3 x Bil.Oksidasi O = -1,
Bilangan Oksidasi O = -2 (aturan -3)
1. X + 3.(-2) = -1
X + (-6) = -1
Maka X = +5 jadi
Bilangan Oksidasi N dalam cr(NO3)3 = +5
Langganan:
Komentar (Atom)